Jakarta — Kementerian Pertanian memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman serta harga tetap terkendali menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 1447 Hijriah. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (18/3/2026).
Wamentan Sudaryono menjelaskan bahwa seluruh komoditas pangan strategis, seperti beras, jagung, kedelai, cabai, bawang, daging, telur, gula, hingga minyak goreng, berada dalam kondisi aman. Indikator keamanan tersebut mencakup kecukupan pasokan serta stabilitas harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kondisi “aman” berarti dua hal utama, yakni pasokan yang cukup serta harga yang tetap terkendali sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Khusus untuk komoditas beras, cadangan beras pemerintah yang tersimpan di gudang Perum BULOG telah mencapai lebih dari 4 juta ton dan diproyeksikan meningkat hingga sekitar 6 juta ton. Selain itu, stok beras yang beredar di masyarakat diperkirakan mencapai hampir 12 juta ton, dengan tambahan potensi panen sekitar 12 juta ton dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton, yang diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga sekitar 11 bulan ke depan. Dari sisi produksi, kinerja pertanian juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan produksi beras sekitar 13 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam menjaga stabilitas harga, pemerintah melakukan pengawasan menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari sentra produksi hingga distribusi di pasar. Pengawasan ini diperkuat melalui sinergi lintas lembaga bersama Satgas Pangan dan aparat penegak hukum untuk mencegah praktik penimbunan maupun permainan harga.
Wamentan menegaskan bahwa setiap kenaikan harga di atas ketentuan akan ditelusuri sumbernya. Apabila ditemukan pelanggaran, sanksi administratif hingga pencabutan izin usaha dapat diberlakukan, bahkan dapat dilanjutkan ke proses hukum apabila terdapat unsur pidana.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga agar tidak merugikan salah satu pihak. Harga yang terlalu tinggi akan membebani konsumen, sementara harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani dan peternak.
Terkait pengawasan di lapangan, hingga saat ini tercatat 89 distributor telah mendapatkan teguran dan melakukan perbaikan, tanpa adanya kasus yang berlanjut ke proses hukum selama periode Ramadan.
Selain fokus pada stabilitas dalam negeri, pemerintah juga mulai mendorong ekspor beras secara selektif. Sebanyak 2.000 ton beras telah direalisasikan untuk kebutuhan jamaah haji dan umrah di Arab Saudi, serta membuka peluang ekspor ke negara lain seperti Papua Nugini dan Malaysia.
Upaya peningkatan produksi juga terus dilakukan melalui mekanisasi pertanian, peningkatan indeks pertanaman, serta percepatan revitalisasi irigasi. Menurut Wamentan, perbaikan sistem irigasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas lahan.
Menghadapi momentum hari besar keagamaan, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional terus memperkuat distribusi dan pengawasan di lapangan agar pasokan tetap terjaga dan harga tetap stabil.
Sebagai penutup, Wamentan Sudaryono mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dengan melaporkan apabila menemukan harga pangan yang tidak sesuai ketentuan melalui berbagai kanal yang tersedia.
