Maros, 26 April 2026 — Menyambut musim tanam padi kedua tahun 2026, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menggelar kegiatan tanam padi perdana dengan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan modernisasi sektor pertanian nasional guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani padi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Maros Andi Muetazim Mansyur, Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian, Tenaga Ahli Menteri Bidang Lingkungan Pertanian Yusran Jusuf, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry, Kepala BRMP Tanaman Serealia Sarjoni, serta Kepala Balai Besar Veteriner Maros Agustia.

Pelaksanaan tanam padi dilakukan di lahan percobaan milik BRMP Tanaman Serealia. Lokasi ini dipilih sebagai area percontohan untuk pengamatan dan evaluasi penerapan metode PM-AAS sebelum diimplementasikan secara lebih luas pada lahan pertanian milik masyarakat.
Metode PM-AAS, yang juga dikenal sebagai model Arkansas, merupakan inisiatif Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengadopsi praktik budidaya padi modern dari negara bagian Arkansas, Amerika Serikat. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas melalui pendekatan teknologi dan manajemen budidaya yang lebih efisien.

Dalam penerapannya, PM-AAS menggunakan sistem tanam benih langsung (direct seeding) dengan jarak tanam yang lebih rapat. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan populasi tanaman per satuan luas sehingga pemanfaatan lahan menjadi lebih optimal. Selain itu, metode ini juga mendukung efisiensi tenaga kerja dan waktu tanam dibandingkan metode konvensional.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Maros Andi Muetazim Mansyur menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Maros sebagai lokasi implementasi model tanam modern tersebut. Ia berharap inovasi ini dapat meningkatkan hasil produksi pertanian sekaligus memperkuat kontribusi daerah dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

“Insyaallah produksi pertanian di Kabupaten Maros pada tahun 2026 akan meningkat dan dapat mendukung status swasembada beras di Indonesia,” ujar Andi Muetazim.
Sementara itu, Kepala BRMP Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa metode PM-AAS memiliki potensi besar dalam meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan. Berdasarkan hasil uji coba di berbagai daerah, sistem ini mampu meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat dibandingkan metode konvensional.
Ia juga menambahkan bahwa sejak tahun sebelumnya, metode PM-AAS telah diuji coba di 15 provinsi di Indonesia. Dari sejumlah lokasi tersebut, produktivitas lahan mencapai hingga 10 ton per hektare, yang menjadi target produksi nasional ke depan.

“Kementerian Pertanian telah melakukan uji coba sistem PM-AAS di 15 provinsi. Jika hasilnya konsisten, metode ini akan menjadi kebijakan nasional dan diterapkan secara luas di seluruh Indonesia,” jelas Fadjry.
Pada kesempatan yang sama, PT Pupuk Indonesia (Persero) turut memberikan dukungan melalui penyediaan pupuk Petroganik. Dukungan ini dinilai penting mengingat peningkatan populasi tanaman dalam sistem PM-AAS berimplikasi pada kebutuhan input nutrisi yang lebih tinggi.

“Kami mengapresiasi dukungan Pupuk Indonesia dalam penyediaan pupuk Petroganik yang nantinya akan disubsidikan kepada petani untuk mendukung keberhasilan program PM-AAS,” tambah Fadjry.
Melalui penerapan teknologi pertanian modern seperti PM-AAS, pemerintah berharap transformasi sektor pertanian dapat berjalan lebih cepat, adaptif, dan berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan global.
