Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus memperkuat sinergi dalam memastikan kesehatan hewan ternak kurban yang diperjualbelikan kepada masyarakat. Melalui koordinasi lintas sektor, pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan secara intensif di berbagai lokasi penjualan ternak di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara sebagai bagian dari upaya memberikan jaminan keamanan hewan kurban kepada masyarakat.
Balai Besar Veteriner Maros (BBV Maros) sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian turut melakukan pendampingan dan pemantauan bersama dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang beredar dalam kondisi sehat secara fisik, bebas dari gejala penyakit hewan menular strategis, serta memenuhi syarat sebagai hewan kurban.
Pemeriksaan kesehatan hewan kurban sejatinya telah lebih dahulu dilakukan oleh pemerintah daerah melalui dinas dan UPT Puskeswan di masing-masing kabupaten/kota. Kehadiran Kementerian Pertanian menjadi bentuk penguatan pengawasan serta dukungan teknis agar masyarakat semakin yakin terhadap kesehatan hewan kurban yang dibeli.
Pada Senin, 25 Mei 2026, tim BBV Maros melakukan pemantauan di empat lokasi penjualan ternak kurban, yakni satu lokasi di Kabupaten Maros dan tiga lokasi di Kota Makassar dengan didampingi petugas dinas setempat.

Di Kabupaten Maros, kegiatan dilakukan bersama UPTD Puskeswan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros di kandang milik UD Rahma Firdaus yang berlokasi di Kecamatan Bantimurung. Pemantauan dilakukan terhadap 357 ekor sapi yang terdiri atas sapi limosin, angus, simental, dan sapi bali. Seluruh ternak terpantau sehat serta telah menerima vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Pemilik UD Rahma Firdaus, H. Pacong, menyampaikan bahwa arus transaksi penjualan hewan kurban mengalami peningkatan sejak dua bulan terakhir.
“Sejak dua bulan lalu, penjualan mengalami kenaikan dan diperkirakan akan terus ada hingga hari tasyrik,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sekitar 90 persen sapi di kandangnya berasal dari Kabupaten Maros, sedangkan sisanya didatangkan dari Kabupaten Bone. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, tim juga memberikan edukasi kepada calon pembeli mengenai tips memilih hewan kurban yang sehat dan layak.
Sementara itu di Kota Makassar, tim BBV Maros bersama Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar melakukan pemantauan di beberapa kandang penjualan ternak di wilayah Kecamatan Tamalanrea dan Kecamatan Manggala.

Pada kunjungan ke ATB Farm di Kecamatan Tamalanrea, tim melakukan pemeriksaan fisik terhadap ternak yang dijual untuk kebutuhan kurban dan tidak menemukan adanya gejala penyakit pada hewan. Namun demikian, pemilik kandang menyampaikan bahwa permintaan hewan kurban tahun ini cenderung menurun.
“Kami hanya memiliki beberapa ternak yang dijual untuk kurban, sisanya difokuskan untuk kepentingan penggemukan,” terang Sutikno selaku pemilik ATB Farm.
Hal serupa juga disampaikan Firman, pemilik kandang lain di wilayah Tamalanrea. Ia mengungkapkan bahwa penjualan hewan kurban tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sehingga stok ternak disesuaikan dengan permintaan pasar.
“Jika dibandingkan tahun lalu, penjualan hewan kurban di tahun ini lebih rendah, jadi saya hanya menstok hewan jika ada permintaan,” jelasnya.
Meski demikian, sapi-sapi yang tersedia di kandangnya terpantau sehat dan siap dikirim kepada pembeli.

Berbeda dengan kondisi di Tamalanrea, aktivitas penjualan di kandang milik H. Madi Dg. Kalu di Kecamatan Manggala justru masih stabil seperti tahun sebelumnya. Menurutnya, permintaan hewan kurban masih cukup tinggi dengan pembeli yang berasal dari berbagai kalangan.
“Jumlah permintaan masih tinggi seperti tahun lalu, sapi-sapi di kandang kami datangkan dari Bone, Ambon, hingga NTT,” ujar H. Madi.
Sapi-sapi di kandang tersebut sebelumnya telah diperiksa oleh UPT Puskeswan Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar dan dinyatakan sehat. Tim BBV Maros yang melakukan pemantauan ulang juga tidak menemukan tanda-tanda klinis penyakit pada ternak.
Kepala UPT Puskeswan Kota Makassar, drh. Nurmayanti, menjelaskan bahwa pihaknya secara aktif melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di berbagai titik penjualan ternak.
“Kami aktif melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di beberapa titik kandang, seperti di kandang milik H. Madi ini. Sapi-sapi yang telah diperiksa kami beri tanda stiker kuning pada tanduknya, yang menandakan bahwa sapi sehat,” terangnya.

Sebagai bentuk penjaminan kepada masyarakat, tim BBV Maros juga melakukan pemasangan stiker bertuliskan “Telah Diperiksa Kesehatan Hewan” pada kandang-kandang yang telah dipantau. Penandaan tersebut menjadi informasi bagi masyarakat bahwa ternak yang dijual di lokasi tersebut telah melalui pemeriksaan kesehatan oleh petugas berwenang.

Selain pemantauan langsung di lapangan, BBV Maros juga terus menjalin komunikasi dan koordinasi aktif dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di seluruh wilayah kerjanya yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemantauan kesehatan hewan kurban berjalan optimal menjelang Idul Adha.

Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, Kementerian Pertanian berkomitmen mendukung pelaksanaan Hari Raya Idul Adha dengan memastikan kesehatan ternak kurban sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan khidmat. Pemerintah juga memastikan daging kurban yang diterima masyarakat memenuhi prinsip ASUH, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
