Jawa Timur — Sebanyak 40 ton karkas ayam layer afkir asal Jawa Timur mulai dikirim ke Makassar, Sulawesi Selatan. Pengiriman perdana ini menjadi tahap awal dalam membangun sistem distribusi yang lebih teratur dan berkelanjutan, sekaligus memperluas akses pemasaran bagi peternak ayam petelur.
Distribusi ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah, ID FOOD, dan koperasi peternak. Beberapa koperasi yang terlibat di antaranya Koperasi PPN Blitar, Koperasi KARTINI, Koperasi Putra Blitar, Koperasi PPRN (Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara), serta Koperasi Berkah Telur.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, menyampaikan bahwa distribusi perdana tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi sistem distribusi yang dilakukan secara rutin. Menurutnya, kolaborasi antar-koperasi dibutuhkan untuk memperkuat posisi tawar peternak sekaligus membentuk tata niaga yang lebih sehat.
“Pelepasan 40 ton ini merupakan langkah awal. Ke depan akan menjadi reguler. Kerja sama antarkoperasi diperlukan agar harga tidak dikendalikan oleh tengkulak. Posisi tawar dari peternak harus diperkuat,” ujar Makmun.
Makmun juga menjelaskan bahwa penguatan kerja sama di tingkat koperasi menjadi salah satu faktor penting untuk mengonsolidasikan potensi produksi peternak dan menghubungkannya dengan pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro, menegaskan komitmen ID FOOD dalam membangun ekosistem peternakan yang melibatkan koperasi dan peternak sebagai bagian penting dalam rantai pasok.
“ID FOOD ingin membangun ekosistem. Koperasi ada dan diperlukan untuk memfasilitasi keinginan anggota,” kata Dwi.
Melalui kerja sama tersebut, koperasi didorong agar tidak hanya berfungsi sebagai wadah organisasi peternak, tetapi juga menjalankan peran dalam mengonsolidasikan kebutuhan para anggota, termasuk menyerap ayam petelur afkir serta menghubungkannya dengan pasar di daerah lain.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Heri Widyatmoko, mengapresiasi langkah penyerapan ayam petelur afkir tersebut. Menurutnya, ketersediaan akses pemasaran merupakan salah satu kebutuhan penting bagi peternak saat ayam telah memasuki akhir masa produksi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas penyerapan ayam petelur afkir ini. Terima kasih juga atas gerak cepat pemerintah pusat dalam memberikan solusi atas permasalahan ini,” ujar Heri.
Penyerapan ayam petelur afkir menjadi salah satu langkah untuk memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi peternak, terutama ketika ayam memasuki masa akhir produksi dan memerlukan saluran pemasaran yang dapat memberikan nilai ekonomi lebih baik.
Ketua Koperasi PPRN (Perhimpunan Peternak Rakyat Nusantara), Rofi, turut menyampaikan apresiasi kepada ID FOOD yang dinilai telah memberikan solusi melalui penyerapan ayam afkir petelur dengan harga yang berada di atas harga pasar.
“Terima kasih kepada ID FOOD karena dapat menjadi solusi terhadap permasalahan ini dengan menyerap ayam afkir petelur dengan harga di atas harga pasar,” ujar Rofi.
Rofi menambahkan bahwa kerja sama antarkoperasi perlu diperkuat guna meningkatkan kapasitas sekaligus posisi tawar peternak dalam tata niaga ayam afkir petelur.
“Kami membenarkan bahwa selama ini posisi tawar koperasi masih rendah dan masih diatur oleh tengkulak. Kerja sama antarkoperasi diperlukan. Chemistry yang sudah ada perlu dijaga,” tambahnya.
Pengiriman perdana 40 ton karkas ayam layer ke Makassar menjadi langkah awal dalam menghubungkan sentra produksi di Jawa Timur dengan wilayah yang memiliki kebutuhan pasar. Sistem ini diharapkan dapat berkembang menjadi distribusi rutin dengan melibatkan lebih banyak koperasi serta peternak.
Bagi pemerintah, penguatan jalur distribusi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun tata niaga peternakan yang lebih efisien, memperluas akses pasar, serta memastikan hasil usaha peternak memiliki saluran pemasaran yang jelas.
Ke depan, kerja sama antara pemerintah, ID FOOD, koperasi, dan peternak diharapkan tidak berhenti pada pengiriman perdana. Hal yang dibangun adalah sebuah ekosistem, di mana peternak menghasilkan, koperasi melakukan konsolidasi, pasar menyerap, dan produk didistribusikan dari sentra produksi menuju wilayah yang membutuhkan.
Dengan pola tersebut, ayam layer afkir tidak lagi hanya menjadi persoalan di tingkat kandang, melainkan dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha peternak rakyat.
