Jakarta – Subsektor peternakan menorehkan catatan bersejarah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor peternakan pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 11,84 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) dan 25,41 persen secara kuartalan (quarter to quarter/q-to-q). Angka ini merupakan laju pertumbuhan tertinggi yang pernah dicapai subsektor peternakan nasional dalam 25 tahun terakhir.

Nilai PDB subsektor peternakan atas dasar harga konstan pada triwulan I-2026 tercatat sebesar Rp59,4 triliun, melonjak secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp53,1 triliun.

Pertumbuhan yang tinggi ini ditopang oleh meningkatnya produksi dan permintaan domestik, terutama untuk komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras selama momentum Idulfitri, serta diperkuat oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan bahwa pencapaian ini membuktikan subsektor peternakan nasional semakin kokoh dan kini menjadi salah satu pilar utama ketahanan pangan nasional.

“Ini menjadi bukti bahwa subsektor peternakan mampu tumbuh kuat ketika produksi, distribusi, dan pasar bergerak bersama. Arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, produksi harus ditingkatkan, peternak harus dijaga, dan pangan masyarakat harus aman,” ujar Agung di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Menurutnya, tingginya pertumbuhan subsektor peternakan tidak terlepas dari berbagai upaya percepatan yang ditempuh pemerintah, mulai dari penguatan produksi, pengendalian penyakit hewan, stabilisasi distribusi, hingga pengembangan hilirisasi peternakan.

Agung menegaskan bahwa meningkatnya permintaan produk peternakan mencerminkan konsumsi protein hewani masyarakat yang terus bertumbuh. Hal ini dipandang sebagai sinyal positif bagi penguatan ekonomi peternak di berbagai daerah.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, menyebutkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan para peternak di lapangan.

“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa subsektor peternakan memiliki daya tahan dan potensi yang sangat besar. Kinerja positif ini harus dijaga bersama melalui penguatan tata kelola, peningkatan produktivitas, dan penguatan kualitas SDM peternakan,” ujar Nuryani.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan subsektor peternakan pada triwulan I-2026 juga melampaui pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan yang tercatat sebesar 4,97 persen secara tahunan.

Momentum pertumbuhan subsektor peternakan ini sekaligus membuka peluang besar bagi peningkatan investasi, khususnya dalam pengembangan sapi perah dan sapi pedaging guna memperkuat produksi daging dan susu nasional.

Kementerian Pertanian menilai capaian ini sebagai indikator kuat bahwa subsektor peternakan semakin strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menjaga ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat di berbagai penjuru Indonesia.