Bogor, — Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengingatkan generasi muda bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh pilihan yang diambil pada hari ini. Hal itu disampaikannya dalam kuliah umum bertema “Gagal Menuju Sukses: Membangun Kewirausahaan dan Agribisnis dalam Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional”. Dalam kesempatan itu, Mentan Amran menegaskan bahwa setiap orang dihadapkan pada dua pilihan besar dalam hidupnya: berjuang sekarang atau bersenang-senang sekarang.
“Hari ini ada dua pilihan, struggle now atau enjoy now. Kalau memilih struggle now, insya Allah nanti akan enjoy your life. Tetapi kalau hari ini hanya enjoy your life, bisa jadi nanti akan struggle for life. Pilihan itu ada di tangan kita masing-masing,” ujar Mentan Amran, di IPB Bogor, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, kesuksesan tidak pernah hadir secara instan. Banyak orang hanya menyaksikan hasil akhir dari sebuah keberhasilan, tanpa melihat proses panjang yang diwarnai perjuangan, pengorbanan, dan kegagalan.
“Sukses itu di akhir. Orang melihat kesuksesan, tetapi tidak melihat prosesnya. Padahal kesuksesan diawali dengan perjuangan, kegagalan, dan kerja keras yang terus menerus,” katanya.
Di hadapan mahasiswa, dosen, dan civitas akademika, Mentan Amran berbagi kisah hidupnya yang penuh tantangan. Ia mengaku telah berulang kali mengalami kegagalan dalam membangun usaha. Namun, seluruh pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga yang membentuk mentalitasnya hingga mampu meraih berbagai keberhasilan.
“Sukses itu dipraktikkan melalui kegagalan. Gagal, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Tidak ada kesuksesan yang datang tanpa penderitaan dan kerja keras,” tegasnya.
Mentan Amran menyampaikan bahwa dirinya berasal dari keluarga sederhana dan pernah melewati berbagai kesulitan hidup. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, keterbatasan yang ada justru menjadi motivasi untuk terus melangkah maju.
Guna menggambarkan pentingnya keberanian dalam mengambil risiko, Mentan Amran mengenang pengalaman pahit ketika merintis usaha di masa muda. Kala itu, ia terpaksa menjual barang-barang pribadi milik keluarganya, termasuk gelang dan kalung istrinya, demi menambah modal usaha.
“Saya pernah menjual gelang dan kalung istri untuk modal usaha. Kami membeli satu truk ikan dari Pangkep untuk dijual ke Makassar. Ketika sampai, ikan itu tidak ditampung. Rugi besar. Itu pengalaman yang tidak pernah saya lupakan,” ungkapnya.
Kegagalan tersebut sempat membuatnya terpuruk. Namun ia memilih untuk bangkit dan menjadikan pengalaman itu sebagai bekal berharga dalam membangun usaha yang lebih besar.
Menurut Mentan Amran, banyak orang menginginkan kesuksesan namun tidak siap menjalani proses yang menyertainya. Padahal, dunia usaha dan kewirausahaan menuntut keberanian dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian.
“Kalau mau sukses, jangan hanya mencari kenyamanan. Kesuksesan itu tidak lahir di atas meja. Kesuksesan lahir ketika kita berani bertarung di lapangan, menghadapi tantangan yang nyata,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa membangun usaha tidak harus diawali dari sesuatu yang besar. Banyak pengusaha sukses dunia memulai bisnis mereka dari kegiatan sampingan yang kemudian berkembang menjadi usaha berskala besar.
“Fokus membangun bisnis memang menjadi hal utama. Tetapi banyak miliarder di bidang teknologi dan media sosial justru mengawali bisnis mereka sebagai bisnis sampingan. Yang penting adalah keberanian memulai dan konsisten menjalaninya,” katanya.
Kepada para mahasiswa, Mentan Amran memberikan tantangan untuk mulai membangun kemandirian sejak dini. Ia menilai bahwa langkah awal menuju kesuksesan adalah mengurangi ketergantungan pada orang tua dan mulai menciptakan nilai tambah melalui berbagai kegiatan produktif.
“Awal kesuksesan mahasiswa adalah ketika mulai berpikir untuk tidak lagi membebani orang tua. Hentikan pola pikir hanya meminta. Mulailah berusaha, berkarya, dan menciptakan nilai tambah,” tegasnya.
Mentan Amran turut mengingatkan bahwa keraguan dan kebiasaan mengeluh kerap menjadi penghambat terbesar dalam meraih keberhasilan. Karena itu, generasi muda perlu membangun karakter yang tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan.
“Orang ragu gagal. Orang mengeluh gagal. Apalagi yang hanya meminta-minta. Manusia tangguh adalah manusia yang berproses, yang terus bergerak meskipun menghadapi banyak kesulitan,” ujarnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk senantiasa optimistis dan tidak mudah menyerah terhadap keadaan.
“Jangan mengeluh, kecuali kepada Tuhan. Semua orang berhak sukses. Tidak ada yang ditakdirkan untuk gagal selama dia mau berjuang dan terus belajar,” katanya.
Mentan Amran menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang berani tampil sebagai pengusaha, inovator, dan pelaku agribisnis modern. Menurutnya, penguatan jiwa kewirausahaan di sektor pertanian akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Generasi muda harus mengubah mindset, mengubah cara pandang. Jangan hanya mencari pekerjaan, tetapi ciptakan pekerjaan. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi jadilah pelaku yang mampu membawa perubahan bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
