Bogor — Upaya hilirisasi riset yang terus didorong oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menunjukkan perkembangan positif. Salah satu inovasi datang dari peneliti IPB University, Ivan Taufik Nugraha, yang mengembangkan pakan ayam berbasis probiotik dan antikoksi. Pakan ini dirancang tidak hanya lebih efisien, tetapi juga mampu meningkatkan kesehatan ayam, mempercepat pertumbuhan, serta meningkatkan produksi telur.
Ivan menjelaskan bahwa inovasi pakan yang dikembangkannya tidak hanya efisien dari sisi konsumsi, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan produktivitas ayam.
“Pakannya tidak terlalu banyak, pertama dapat meningkatkan kesehatan pencernaan. Kedua, mampu mempercepat pertambahan bobot badan, serta meningkatkan massa telur ayam. Biasanya bobot telur bisa bertambah 20 hingga 30 persen,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menyebutkan bahwa salah satu tantangan utama dalam budidaya ayam adalah penyakit koksidiosis yang sering menyebabkan diare parah hingga kematian massal dalam satu kandang. Oleh karena itu, riset yang dikembangkan saat ini difokuskan pada formulasi pakan berbasis antikoksi.
“Saat ini kami mengarah ke antikoksi untuk mencegah ayam sakit. Koksidiosis dapat menyebabkan diare parah, tingkat kematian tinggi, dan mudah menyebar dalam satu kandang. Dengan adanya antikoksi, kesehatan ayam dapat meningkat,” jelas Ivan.
Lebih lanjut, inovasi ini juga ditujukan untuk meningkatkan performa ayam kampung yang selama ini dikenal memiliki pertumbuhan lebih lambat dibanding ayam ras. Dengan pendekatan nutrisi yang tepat, Ivan optimistis pertumbuhan ayam kampung dapat dipercepat secara signifikan.
“Harapannya ayam kampung bisa mencapai bobot lebih cepat. Seperti yang disampaikan Pak Menteri, dalam 40 hari bisa mencapai satu kilogram,” tambahnya.
Ivan juga menekankan pentingnya optimalisasi sistem pencernaan ayam sebagai kunci peningkatan produktivitas. Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak nutrisi yang belum terserap secara maksimal, yang salah satunya ditandai dengan bau menyengat pada kandang.
“Pada dasarnya, ketika kandang berbau, artinya protein tidak terserap optimal. Dengan tambahan probiotik dalam produk kami, penyerapan nutrisi bisa lebih maksimal,” ungkapnya.
Menurutnya, probiotik bekerja hingga ke bagian vili usus, sehingga meningkatkan penyerapan nutrisi secara optimal dan berdampak langsung pada efisiensi pakan serta kualitas lingkungan kandang.
“Probiotik bekerja sampai ke vili usus dan membantu penyerapan. Saat dikeluarkan, aromanya berkurang karena protein terserap dengan baik,” jelasnya.
Sementara itu, Mentan Amran menegaskan bahwa riset harus berorientasi pada solusi nyata dan memiliki dampak ekonomi. Dalam kunjungannya ke Science Techno Park IPB, Bogor, ia menyoroti potensi besar pengembangan ayam unggul berbasis riset IPB, termasuk percepatan pertumbuhan ayam kampung.
“Jika ayam kampung bisa dipercepat pertumbuhannya, misalnya 30–40 hari sudah mencapai satu kilogram, itu sangat luar biasa. Ini yang harus kita dorong,” ujarnya.
Mentan Amran juga menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung hilirisasi inovasi, termasuk menyerap hasil riset dalam skala besar apabila terbukti berhasil di lapangan.
“Kalau target tercapai, saya siap membawa ke Presiden untuk kita beli. Jangan ragu, ini peluang besar,” tegasnya.
Dukungan tersebut menjadi dorongan bagi para peneliti agar setiap inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diterapkan sebagai solusi bagi peternak sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
