Gorontalo — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat peran peternak rakyat sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional. Melalui Gelar Teknologi pada Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan di Gorontalo, Kementan memperkenalkan berbagai inovasi, layanan, dan model peternakan terintegrasi yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, dan pendapatan peternak.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan PENAS XVII menjadi momentum untuk menghadirkan layanan sekaligus edukasi bagi peternak dan masyarakat mengenai arah pembangunan peternakan Indonesia yang semakin maju dan berdaya saing.

“Melalui PENAS XVII Gorontalo, Ditjen PKH menghadirkan beragam pelayanan dan kegiatan yang mencerminkan arah pembangunan peternakan Indonesia yang semakin terintegrasi, modern, dan berorientasi pada nilai tambah,” ujar Agung saat meninjau area Kampung Ternak, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, tantangan peternakan saat ini tidak hanya terletak pada peningkatan produksi, tetapi juga pada upaya memastikan hasil usaha peternak memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui pengolahan, efisiensi usaha, dan penguatan rantai pasok.

“Kami juga menghadirkan model ekosistem Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) yang merepresentasikan dukungan terhadap usaha peternakan rakyat dan juga Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujarnya.

Selain itu, Ditjen PKH menghadirkan kontes sapi, expo ternak lokal yang menampilkan ayam hias, kambing, domba, dan hewan kesayangan, serta paddock kuda pacu yang memperkenalkan potensi kuda lokal Gorontalo dan Sulawesi Utara.

“Kami juga menyediakan pelayanan kesehatan hewan berupa vaksinasi dan pemeriksaan gratis bagi masyarakat,” jelas Agung.

Pengunjung juga dapat mengunjungi Mini Zoo hasil kolaborasi dengan komunitas pecinta hewan, serta zona edukasi dan permainan yang mengenalkan biosekuriti dan peternakan modern kepada pelajar maupun keluarga.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, menegaskan bahwa PENAS XVII turut didukung berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen PKH sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam mendampingi peternak.

“Melalui partisipasi aktif UPT, kami ingin menunjukkan bahwa negara hadir secara langsung dalam memberikan pelayanan kepada peternak, mulai dari pendampingan teknis, penyediaan bibit dan benih unggul, pengendalian penyakit hewan, hingga pengembangan usaha peternakan yang berdaya saing,” kata Nuryani.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa konsep hilirisasi yang ditampilkan pada PENAS XVII memberikan gambaran tentang bagaimana peternak dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar melalui sistem usaha yang terintegrasi.

“Melalui showcase ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi, kami ingin memperlihatkan bagaimana sistem peternakan dapat dibangun secara menyeluruh mulai dari penyediaan bibit, pakan, manajemen kandang, proses produksi, hingga menghasilkan produk pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal. Pendekatan ini menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan peternak,” kata Makmun.

Ia menambahkan bahwa hilirisasi membantu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memperkuat kontribusi sektor peternakan terhadap ketahanan pangan nasional.

Melalui PENAS XVII Gorontalo, Kementan ingin memastikan inovasi dan teknologi dapat diterapkan langsung oleh peternak. Dengan penguatan hilirisasi, peternak diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar sehingga kesejahteraan peternak dan ketahanan pangan nasional dapat tumbuh bersama.