Balai Besar Veteriner Maros (BBV Maros) menerima kunjungan tim asesmen dari Food and Agriculture Organization (FAO) dalam kegiatan Laboratory Mapping Tool (LMT) Assessment pada tanggal 18–19 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan kerja sama Kementerian Pertanian dengan FAO sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas laboratorium veteriner dalam mendukung sistem kesehatan hewan yang tangguh, berkualitas, dan berkelanjutan.
Asesmen dipimpin oleh Luca Porfiri selaku Regional Laboratory Specialist pada FAO ECTAD (Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases) Regional Office for Asia and the Pacific. Tim asesmen melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kapasitas laboratorium, sistem mutu, biosafety dan biosecurity, hingga jejaring kerja laboratorium veteriner di BBV Maros.
Kegiatan asesmen menggunakan skema FAO Laboratory Mapping Tool (LMT), yaitu instrumen penilaian yang dikembangkan FAO untuk memetakan kemampuan dan kapasitas laboratorium veteriner secara sistematis dan semi-kuantitatif. Berdasarkan materi FAO, LMT dikembangkan untuk membantu laboratorium mengidentifikasi kekuatan, kesenjangan, serta prioritas peningkatan yang diperlukan guna mendukung layanan diagnostik veteriner yang efektif dan berstandar internasional.
Asesmen yang dilaksanakan di BBV Maros mencakup dua komponen utama, yaitu LMT-Core dan LMT-Safety Module. Pada LMT-Core dilakukan penilaian terhadap lima area utama meliputi general laboratory profile, infrastructure, equipment and supplies, laboratory performance, quality assurance, biosafety/biosecurity, serta laboratory collaboration and networking, dengan total 17 kategori penilaian.
Sementara itu, LMT-Safety Module difokuskan pada aspek keselamatan dan keamanan laboratorium yang mencakup empat area utama, yaitu administrasi, operasional, engineering, dan penggunaan alat pelindung diri (personal protective equipment/PPE), dengan total 20 kategori penilaian.
Pelaksanaan asesmen dilakukan secara menyeluruh pada unit laboratorium dan unit pendukung di lingkungan BBV Maros, meliputi Laboratorium Bakteriologi, Biologi Molekuler, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Parasitologi, Serologi, Patologi dan Toksikologi, Virologi, Unit Epidemiologi, Unit Sterilisasi, Media, Kimia dan Limbah B3, hingga Unit Kandang Hewan Coba.

Selama asesmen, tim melakukan observasi fasilitas laboratorium, pemeriksaan dokumen sistem mutu, wawancara dengan personel laboratorium, serta diskusi teknis terkait pelaksanaan pengujian dan penerapan biosafety dan biosecurity. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menggali potensi pengembangan laboratorium, baik dari sisi infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia, pengelolaan risiko biologis, maupun penguatan jejaring laboratorium veteriner nasional dan internasional.
Luca menjelaskan bahwa LMT tidak hanya digunakan untuk memotret kondisi laboratorium saat ini, tetapi juga sebagai dasar untuk memonitor perkembangan laboratorium dari waktu ke waktu serta mendukung penyusunan prioritas peningkatan kapasitas laboratorium veteriner.
Melalui asesmen ini, BBV Maros memperoleh masukan strategis untuk penguatan sistem laboratorium veteriner agar semakin adaptif terhadap tantangan penyakit hewan, zoonosis, dan ancaman penyakit lintas batas (transboundary animal diseases). Hasil asesmen diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan peningkatan mutu layanan laboratorium, penguatan biosafety dan biosecurity, serta peningkatan kapasitas diagnostik veteriner yang selaras dengan standar internasional.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen BBV Maros dalam mendukung penguatan kesehatan hewan nasional melalui laboratorium veteriner yang profesional, andal, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.
