Paris – Indonesia terus memantapkan posisinya sebagai salah satu negara yang giat membangun sistem kesehatan hewan yang modern dan responsif di tengah meningkatnya ancaman wabah global. Langkah ini menjadi bagian krusial dari strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional, melindungi peternak rakyat, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan protein hewani yang aman bagi masyarakat.
Di tengah tingginya mobilitas perdagangan dunia dan meningkatnya kebutuhan pangan global, kemampuan mendeteksi serta mengendalikan penyakit hewan secara cepat kini menjadi tolok ukur penting kekuatan sektor pertanian suatu negara. Indonesia dinilai mampu menunjukkan kemajuan tersebut melalui penguatan sistem surveilans dan respons berbasis teknologi.
Komitmen tersebut disampaikan dalam The 93rd General Session of the World Assembly of Delegates of the World Organisation for Animal Health (WOAH) di Paris, Prancis. Dalam forum internasional itu, Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, memaparkan pengalaman Indonesia dalam membangun sistem pengendalian penyakit hewan yang bertumpu pada pencegahan, deteksi dini, dan respons cepat.
Menurut Hendra, investasi di bidang kesehatan hewan selama ini kerap dipahami semata-mata sebagai kalkulasi ekonomi. Padahal, nilai terpentingnya justru terletak pada kemampuan negara dalam melindungi masyarakat dan menjaga kesinambungan pangan.
“Nilai utama investasi kesehatan hewan bukan hanya keuntungan finansial. Yang paling penting adalah seberapa cepat kita mendeteksi penyakit, seberapa efektif kita merespons, dan seberapa baik kita melindungi mata pencaharian masyarakat, ketahanan pangan, serta perdagangan,” ujar Hendra dalam forum tersebut, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa wabah penyakit hewan dapat menekan produktivitas ternak secara drastis dan memicu kerugian ekonomi dalam skala besar. Indonesia pernah merasakan dampak tersebut ketika wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda pada 2022–2023 dengan estimasi kerugian mencapai 1–2 miliar dolar AS.
Namun pengalaman itu justru menjadi momentum percepatan reformasi sistem kesehatan hewan nasional. Pemerintah memperkuat pengawasan, mempercepat vaksinasi, meningkatkan kapasitas laboratorium veteriner, hingga membangun sistem data kesehatan hewan yang terintegrasi secara nasional.
“Dari sudut pandang Indonesia, pencegahan jauh lebih penting. Kami berinvestasi pada sistem surveilans dan informasi yang menghubungkan semua pihak agar data dapat dianalisis dengan tepat dan mendukung pengambilan keputusan secara cepat,” katanya.
Dalam paparannya, Hendra menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit bukan sekadar menemukan kasus, melainkan memastikan respons dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
“Saya ingin menyoroti langkah penting berikutnya, yaitu bagaimana kita merespons ketika suatu kejadian penyakit benar-benar terjadi. Karena mendeteksi penyakit hanyalah permulaan, tantangan sesungguhnya dalam menghadapi wabah adalah seberapa cepat dan efektif kita dapat bertindak. Secara sederhana, surveilans membantu kita melihat masalah, tetapi responslah yang menentukan hasil akhirnya,” tuturnya.
Guna memperkuat respons tersebut, Indonesia mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional atau iSIKHNAS. Sistem berbasis daring ini menghubungkan peternak, petugas lapangan, laboratorium, dokter hewan, hingga pemerintah daerah dalam satu jaringan data nasional.
Melalui sistem tersebut, otoritas kesehatan hewan dapat memetakan wilayah terdampak, membaca pola penyebaran penyakit, dan menentukan prioritas intervensi secara cepat. Pendekatan ini diterapkan dalam pengendalian PMK, rabies, hingga flu burung (avian influenza).
Pandangan senada disampaikan oleh dokter hewan asal Chili sekaligus pakar kesehatan hewan akuatik dan keamanan pangan, Mónica Rojas. Dalam forum WOAH tersebut, ia menilai investasi pada pencegahan penyakit dan deteksi dini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak di tengah meningkatnya kebutuhan protein dunia.
“Investasi pada kesehatan hewan, khususnya dalam pencegahan penyakit dan deteksi dini, akan memungkinkan kita untuk terus berkembang dalam memenuhi kebutuhan protein bagi populasi dunia yang terus meningkat. Tingginya prevalensi penyakit akan meningkatkan biaya produksi peternakan dan mengurangi ketersediaan pangan bagi masyarakat,” ujar Mónica.
Bagi Indonesia, forum ini menjadi bukti nyata bahwa penguatan kesehatan hewan kini telah menjadi prioritas strategis pemerintah dalam mendukung swasembada pangan dan menjaga kelangsungan sektor peternakan nasional. Pemerintah memandang kesehatan hewan tidak hanya berkaitan dengan produktivitas ternak, tetapi juga sebagai fondasi penting bagi kesehatan masyarakat, stabilitas ekonomi, dan daya saing perdagangan global.
