Bogor — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kesiapsiagaan di bidang kesehatan hewan dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan hewan di lapangan, salah satunya melalui penguatan Program Epidemiologi Lapangan Veteriner Indonesia (PELVI) atau Field Epidemiology Training Program for Veterinarians (FETPV).

Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan hewan, terutama dokter hewan, agar dapat menerapkan prinsip-prinsip epidemiologi secara langsung guna mendukung pengendalian penyakit hewan. Penguatan kompetensi ini mencakup investigasi penyakit, analisis data, penelusuran kasus, penilaian risiko, koordinasi lintas sektor, hingga penyusunan rekomendasi sebagai bahan pengambilan keputusan.

Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Hendra Wibawa, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas tenaga epidemiologi lapangan menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan hewan yang semakin tangguh dan responsif.

“Perkembangan dan dinamika penyakit hewan menuntut kita untuk terus meningkatkan kapasitas petugas kesehatan hewan, baik dalam menghadapi penyakit endemis maupun penyakit infeksi baru. Deteksi dini dan respons yang cepat dan tepat sangat bergantung pada ketersediaan tenaga epidemiologi lapangan veteriner yang kompeten,” ujar Hendra di Bogor, Rabu (2/9/2026).

Hendra menjelaskan bahwa kemampuan tenaga epidemiologi lapangan tidak hanya terkait investigasi penyakit, tetapi juga mencakup kompetensi dalam menilai risiko, mengolah dan menganalisis data, melakukan penelusuran kasus, berkoordinasi dengan berbagai sektor, serta menyampaikan hasil kajian secara efektif sebagai bagian penting dalam mendukung kebijakan kesehatan hewan.

Salah satu bentuk penguatan PELVI dilakukan melalui lokakarya peninjauan dan pembaruan kurikulum serta materi pelatihan. Kegiatan ini bertujuan memastikan materi PELVI Frontline dan Intermediate tetap relevan dengan perkembangan ilmu epidemiologi serta kebutuhan pelaksanaan kesehatan hewan di Indonesia.

“Kita perlu membangun program yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga praktis dan sesuai dengan tantangan di lapangan. Masukan dari para peserta sangat penting untuk memastikan program ini memiliki kualitas dan relevansi yang baik serta dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,” kata Hendra.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Analisis Epidemiologi dan Sistem Informasi Kesehatan Hewan, Nurhayati, mengungkapkan bahwa penguatan epidemiologi lapangan memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi kesehatan hewan, tetapi juga dalam menjaga produktivitas ternak, ketersediaan pangan asal hewan, serta mendukung perlindungan kesehatan masyarakat.

“Program PELVI diarahkan untuk mewujudkan tenaga kesehatan hewan yang memiliki keterampilan epidemiologi lapangan melalui pelatihan berbasis keterampilan, sehingga mampu bekerja secara mandiri dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang ditemukan di lapangan,” ujar Nurhayati.

PELVI dikembangkan secara sistematis dan berjenjang melalui tingkat Frontline, Intermediate, dan Advance. Pada periode 2026–2028, pengembangan program juga dilaksanakan melalui CARE-I, dengan kurikulum yang menggunakan pendekatan praktik berupa komposisi 70 persen pembelajaran berbasis lapangan dan 30 persen pembelajaran intensif di kelas.

Pengembangan program ini turut mempertimbangkan pengalaman pelaksanaan PELVI Frontline pada 2022 di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, yang saat itu diikuti oleh 30 dokter hewan dari dinas peternakan, pertanian, dan dinas terkait di kabupaten/kota se-Jawa Barat dalam pelatihan investigasi, analisis, pelaporan, serta pengendalian penyakit hewan.

Widyaiswara Ahli Madya BBPKH Cinagara, Heris Kustiningsih, menyampaikan bahwa hasil evaluasi menunjukkan pelaksanaan PELVI Frontline memberikan manfaat dalam meningkatkan kompetensi dokter hewan pemerintah. Metode praktik, diskusi kelompok, mentoring, serta pembelajaran analisis data dinilai membantu peserta dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan pada pelaksanaan tugas di lapangan.

Penguatan kompetensi tersebut merupakan bagian dari upaya Kementan untuk memastikan tenaga kesehatan hewan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan di daerah. Dengan kapasitas yang semakin meningkat, petugas diharapkan dapat melakukan pengamatan, analisis, dan penyampaian informasi kesehatan hewan secara lebih efektif sebagai bagian dari sistem kewaspadaan dini.

Melalui pembaruan PELVI, Kementan terus mendorong terbentuknya tenaga kesehatan hewan yang terampil, mandiri, dan mampu bekerja berdasarkan bukti, guna memperkuat jejaring epidemiologi lapangan sekaligus mendukung sistem kesehatan hewan nasional yang responsif, terintegrasi, dan berkelanjutan.