Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempersiapkan cadangan pakan ternak nasional untuk menghadapi ancaman kekeringan dan potensi berkurangnya produksi hijauan pakan selama musim kemarau 2026. Langkah ini diambil guna menjaga produktivitas ternak sekaligus memastikan kegiatan usaha peternakan tetap berjalan di tengah tekanan perubahan iklim.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal. Situasi tersebut dikhawatirkan berdampak pada ketersediaan hijauan pakan ternak yang selama ini menjadi sumber pakan utama bagi para peternak.
Direktur Pakan Ditjen PKH, Tri Melasari, menyatakan bahwa pemerintah terus mengambil langkah-langkah antisipatif agar kebutuhan pakan ternak tetap dapat terpenuhi, terutama di wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan maupun bencana.
“Pemerintah berkomitmen memastikan kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama bagi peternak yang berada di daerah terdampak bencana,” ujar Tri Melasari.
Menurutnya, penguatan Bank Pakan menjadi salah satu strategi andalan dalam menjaga ketahanan pakan nasional. Melalui skema tersebut, peternak dapat menyimpan cadangan pakan dalam bentuk silase dan hay yang siap digunakan ketika produksi hijauan segar merosot akibat kemarau.
Selain itu, Kementan mendorong pemanfaatan limbah hasil pertanian sebagai sumber pakan alternatif, seperti jerami padi, tebon jagung, dan berbagai bahan pakan lokal yang tersedia di berbagai daerah. Langkah ini dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan pada hijauan segar di saat kondisi cuaca tidak mendukung.
Penguatan cadangan pakan turut dilakukan di sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen PKH. Kepala Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Gun Gun Gunara, mengungkapkan bahwa pihaknya terus menggenjot produksi pakan olahan berupa silase serta memperluas areal hijauan makanan ternak sebagai bagian dari strategi menghadapi musim kemarau.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok pakan tetap aman selama musim kemarau dan menghadapi potensi dampak musim kemarau,” ujar Gun Gun.
Saat ini produksi silase di BIB Lembang telah mencapai 107,40 ton dengan rata-rata produksi 21,48 ton per bulan. Pengembangan lahan hijauan juga terus diupayakan melalui penanaman berbagai jenis tanaman pakan berkualitas seperti jagung, rumput BH, dan Indigofera yang memiliki kandungan nutrisi tinggi bagi ternak.
Langkah serupa dilakukan pula oleh peternak di berbagai daerah. Salah satunya adalah Achmad Wahyudin, peternak sapi perah dari Desa Cihurip, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang mengembangkan sistem Bank Pakan demi menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Achmad menilai penyediaan cadangan pakan sejak jauh hari merupakan langkah krusial agar kebutuhan pakan ternak tetap tercukupi ketika produksi hijauan menurun di musim kemarau.
“Pembuatan Bank Pakan kami lakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau sekaligus menjaga ketersediaan pakan ternak sepanjang tahun,” kata Achmad.
Ia menjelaskan bahwa cadangan pakan yang ada saat ini berwujud silase yang telah diproduksi sejak tahun sebelumnya dan masih dapat dimanfaatkan hingga kini. Pada saat bersamaan, produksi silase terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan pakan pada musim-musim mendatang.
Guna mencukupi kebutuhan bahan baku, Achmad juga menjalin kemitraan dengan petani jagung di sekitar wilayahnya. Selain memperkuat ketahanan pakan ternak, pola kemitraan ini sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani melalui pemanfaatan hasil panen sebagai bahan baku silase.
Kementan menilai ketahanan pakan merupakan fondasi penting dalam menjaga produktivitas ternak dan keberlangsungan usaha peternakan nasional. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, UPT, pemerintah daerah, dan peternak terus diperkuat agar risiko kekurangan pakan selama musim kemarau dapat ditekan seminimal mungkin.
Melalui berbagai langkah antisipatif tersebut, Kementan optimistis ketersediaan pakan ternak nasional akan tetap terjaga dan subsektor peternakan mampu menghadapi tantangan perubahan iklim dengan lebih tangguh, sekaligus turut mendukung ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
