Wina, Austria – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat peran Indonesia dalam jejaring kesehatan hewan regional melalui pengembangan sistem laboratorium veteriner nasional. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat deteksi penyakit, memperkokoh surveilans, dan mendukung pengendalian penyakit hewan yang berbasis bukti.
Penguatan tersebut dipaparkan Kementan dalam Coordination Meeting of the Veterinary Diagnostic Laboratory Network (VETLAB Network) with Directors of African and Asian Veterinary Laboratories yang digelar di Markas Besar International Atomic Energy Agency (IAEA), Wina, Austria, pada 17–21 Agustus 2026.
Forum tersebut mempertemukan sekitar 50 direktur dan pimpinan laboratorium veteriner dari kawasan Asia dan Afrika, bersama para pakar kesehatan hewan dari IAEA, Food and Agriculture Organization (FAO), World Organisation for Animal Health (WOAH), serta laboratorium rujukan WOAH.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, memaparkan sistem laboratorium veteriner Indonesia, termasuk jejaring sembilan Disease Investigation Centre (DIC) yang tersebar di sembilan wilayah, dengan masing-masing melayani tiga hingga lima provinsi.
“Indonesia memiliki jejaring laboratorium kesehatan hewan yang tersebar di berbagai wilayah, dengan sembilan Disease Investigation Centre yang masing-masing melayani tiga hingga lima provinsi. Jejaring ini menjadi bagian penting dalam mendukung investigasi penyakit, surveilans, diagnosis laboratorium, dan program pengendalian penyakit hewan di tingkat nasional,” ucapnya pada agenda yang berlangsung Senin (17/8/2026).
Kesembilan DIC tersebut memberikan dukungan teknis bagi pelaksanaan program kesehatan hewan di wilayah kerja masing-masing. Selain jejaring DIC, Indonesia juga memiliki laboratorium nasional dengan fungsi khusus, di antaranya Pusat Veteriner Farma (PUSVETMA) yang menangani produk biologis veteriner, termasuk vaksin dan bahan biologis lainnya; National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL) atau Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) untuk pengendalian mutu dan pengujian obat hewan; serta laboratorium nasional yang mendukung penilaian mutu dan keamanan produk hewan.
Kelengkapan tersebut menjadi fondasi bagi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan kesehatan hewan nasional sekaligus berkontribusi dalam kerja sama regional.
Salah satu kapasitas yang dipaparkan Kementan adalah peran DIC atau Balai Besar Veteriner Wates sebagai ASEAN Regional Reference Centre for Bioinformatics.
DIC Wates telah berkontribusi memperkuat kapasitas bioinformatika laboratorium kesehatan hewan di Indonesia maupun Asia Tenggara, khususnya dalam analisis dan interpretasi data genom patogen. Kemampuan tersebut turut mendukung proses diagnosis penyakit, investigasi epidemiologi, penilaian risiko, serta pengambilan keputusan berbasis bukti untuk pengendalian penyakit hewan.
“DIC Wates memiliki peran strategis sebagai Asian Regional Reference Centre for Bioinformatics. Kapasitas ini tidak hanya mendukung kebutuhan Indonesia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan analisis genomik dan bioinformatika di kawasan Asia Tenggara,” tambah Hendra.
Kapasitas tersebut turut mendukung perlindungan kesehatan hewan dan ketahanan pangan, mengingat informasi mengenai karakteristik dan penyebaran patogen dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah pengendalian.
Kontribusi regional lainnya ditunjukkan melalui BBPMSOH yang berperan sebagai ASEAN Regional Reference Laboratory for Animal Vaccine Testing.
BBPMSOH turut berkontribusi dalam penyusunan ASEAN Standards for Animal Vaccines sebagai acuan bersama terkait mutu, keamanan, efikasi, dan pengujian vaksin hewan. Laboratorium tersebut juga berperan dalam pengembangan ASEAN Good Manufacturing Practices (GMP) for Animal Vaccines guna mendorong konsistensi mutu dan pengendalian proses produksi vaksin.
Selain itu, Indonesia mengusulkan pembentukan Regional Reference-Laboratory Network for Animal Vaccine Testing untuk memperkuat kolaborasi, pengujian rujukan, pertukaran keahlian teknis, dan kapasitas laboratorium pengujian vaksin di kawasan.
“Selain diagnosis penyakit, Indonesia juga memiliki kapasitas dalam pengujian mutu vaksin melalui National Veterinary Drug Assay Laboratory. Kapasitas ini menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam mendukung penjaminan mutu vaksin dan penguatan standar produk veteriner di kawasan Asia,” ungkap Hendra.
Peran tersebut memperkuat kontribusi Indonesia dalam membangun referensi teknis dan sistem pengujian vaksin yang dapat digunakan bersama di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Kementan, kerja sama laboratorium lintas negara menjadi hal penting mengingat penyakit hewan dapat menyebar melampaui batas wilayah. Karena itu, pertukaran data, pengalaman, dan keahlian menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan bersama.
Forum VETLAB Network menjadi ruang bagi Indonesia untuk berbagi pengalaman sekaligus mempelajari praktik negara lain dalam pengembangan sistem diagnostik dan pengendalian penyakit.
Friedrich Schmoll dari Austrian Agency for Health and Food Safety (AGES) Austria menekankan pentingnya sistem peringatan dini, komunikasi yang cepat, serta kerja sama lintas negara dalam menghadapi penyakit hewan menular maupun penyakit yang muncul kembali.
“Peringatan dini dan komunikasi ilmiah lintas batas sangatlah penting,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan Friedrich dalam paparannya.
Kementan mendorong agar kerja sama tersebut terus dikembangkan melalui pertukaran pengetahuan dan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan jejaring laboratorium, serta pengembangan standar dan metode diagnostik.
Dengan jejaring sembilan DIC dan laboratorium nasional yang memiliki fungsi khusus, ditambah peran DIC Wates dan BBPMSOH di tingkat ASEAN, Indonesia memiliki modal untuk terus memperluas kontribusi dalam sistem kesehatan hewan kawasan.
Bagi Kementan, laboratorium yang kuat berarti penyakit dapat dideteksi lebih cepat, keputusan pengendalian lebih tepat, peternak lebih terlindungi, dan keamanan pangan masyarakat semakin terjaga.
Indonesia tidak hanya membangun kapasitas untuk memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga berbagi pengetahuan dan keahlian guna memperkuat kesehatan hewan serta ketahanan pangan bersama di kawasan.
