MAROS, 25 September 2025 — Balai Besar Veteriner (BBV) Maros meresmikan Laboratorium Biosecurity Center Wilayah Timur Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengujian veteriner, meningkatkan penerapan keamanan hayati, dan mendukung pengendalian penyakit hewan di kawasan Indonesia Timur.
Peresmian dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si., serta disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si.; Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Dr. drh. Makmun, M.Sc.; Kepala Biro Umum dan Pengadaan, Risman Mangidi, S.Sos., M.M.; serta Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, IPU., ASEAN Eng.
Dibangun melalui pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), laboratorium ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pelayanan veteriner untuk mendukung kegiatan pengujian, surveilans, dan investigasi penyakit hewan. Kehadirannya diharapkan semakin menunjang pelaksanaan tugas BBV Maros dalam memberikan layanan laboratorium kepada delapan provinsi di wilayah kerjanya.

Didukung berbagai laboratorium dan unit teknis
Dalam rangkaian peresmian, Kepala BBV Maros, Dinar Hadi, memimpin peninjauan fasilitas dan memperkenalkan berbagai laboratorium serta unit pendukung yang terdapat di dalam Biosecurity Center. Fasilitas ini mencakup Laboratorium Bakteriologi, Bioteknologi, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Parasitologi, Patologi dan Toksikologi, Serologi, serta Virologi.
Selain itu, tersedia Unit Epidemiologi dan unit pendukung yang meliputi sterilisasi, media, kimia, serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Keseluruhan fasilitas tersebut mendukung rangkaian kegiatan laboratorium, mulai dari pemeriksaan dan pengujian sampel hingga aspek penunjang yang diperlukan untuk menjaga mutu, keselamatan, dan kelancaran operasional.
Keberadaan berbagai laboratorium dalam satu kompleks memberikan dukungan infrastruktur bagi pelaksanaan tugas veteriner yang beragam. Dengan dukungan sarana yang memadai, BBV Maros diharapkan dapat terus memperkuat pelaksanaan pengujian sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan ruang lingkup kewenangannya.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah laboratorium dengan tingkat pengamanan Biosafety Level 2 Plus (BSL-2+). Fasilitas ini dirancang untuk mendukung penanganan agen biologis yang memerlukan pengendalian risiko lebih ketat, sesuai dengan karakteristik agen, prosedur pengujian, dan penilaian risiko yang berlaku.
Penerapan keamanan hayati tidak hanya berkaitan dengan fasilitas fisik, tetapi juga mencakup prosedur kerja, penggunaan peralatan pelindung, pengendalian akses, serta pengelolaan bahan dan limbah biologis. Pendekatan tersebut penting untuk melindungi personel, menjaga keamanan kegiatan laboratorium, dan meminimalkan risiko terhadap lingkungan.
Keselamatan personel dan perlindungan lingkungan menjadi perhatian
Pengembangan Biosecurity Center juga didukung fasilitas keselamatan kerja dan pengelolaan lingkungan. Penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang mengacu pada ISO 45001:2018 menjadi bagian dari upaya BBV Maros dalam mengendalikan risiko pekerjaan dan melindungi pegawai selama menjalankan kegiatan laboratorium.
Dari sisi lingkungan, fasilitas ini didukung instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan embung. IPAL berperan dalam pengolahan air limbah sesuai dengan persyaratan yang berlaku, sedangkan embung menjadi bagian dari infrastruktur kawasan yang mendukung pengelolaan air. Pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tersebut perlu terus dilakukan sesuai fungsi teknis dan ketentuan lingkungan yang berlaku.
Komitmen pengendalian risiko biologis juga sejalan dengan penerapan sistem manajemen biorisiko berdasarkan SNI ISO 35001:2019 yang dimiliki BBV Maros. Sistem ini mendukung pengelolaan risiko yang berkaitan dengan bahan biologis melalui pendekatan yang terencana, mulai dari identifikasi bahaya hingga penerapan langkah pengendalian.
Dengan dukungan fasilitas dan sistem pengelolaan tersebut, Biosecurity Center dikembangkan dengan memperhatikan keterpaduan antara kebutuhan pengujian, keselamatan personel, keamanan hayati, dan perlindungan lingkungan.

Memperkuat pengendalian penyakit hewan dan ketahanan pangan
Kapasitas laboratorium veteriner merupakan salah satu unsur penting dalam sistem kesehatan hewan. Pengujian laboratorium membantu menyediakan informasi teknis yang diperlukan untuk mendukung surveilans, investigasi penyakit, dan pengambilan keputusan dalam penanganan kasus di lapangan.
Sebagai laboratorium veteriner regional dengan wilayah kerja delapan provinsi di Indonesia Timur, BBV Maros memiliki peran dalam mendukung pelaksanaan pengujian dan kegiatan pengamatan penyakit hewan di wilayah tersebut. Penguatan infrastruktur melalui Biosecurity Center diharapkan dapat menunjang pelaksanaan tugas itu dengan dukungan fasilitas yang lebih komprehensif.
Dalam konteks yang lebih luas, kemampuan mendeteksi dan memantau penyakit hewan turut berperan dalam menjaga kesehatan ternak, mendukung keberlanjutan usaha peternakan, dan melindungi ketersediaan pangan asal hewan. Upaya tersebut juga berkaitan dengan perlindungan kesehatan manusia, terutama dalam pengendalian penyakit yang berpotensi menular dari hewan ke manusia.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, diharapkan dapat menegaskan pentingnya pemanfaatan fasilitas ini untuk mendukung peningkatan kapasitas pengujian dan pelayanan kepada masyarakat.
“Dengan adanya Laboratorium Biosecurity Center Wilayah Timur Indonesia, kami berharap kapasitas pengujian veteriner semakin meningkat dan pelaksanaan pengendalian penyakit hewan dapat didukung oleh fasilitas yang memadai. Kami juga berharap fasilitas ini dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, mendukung ketahanan pangan, serta melindungi kesehatan hewan dan manusia.” Ujar Agung.

Tiga kepala BBV Maros dalam satu perjalanan pembangunan
Peresmian Biosecurity Center juga menghadirkan catatan tersendiri dalam perjalanan BBV Maros. Momentum ini mempertemukan tiga sosok yang memiliki peran pada tahapan berbeda dalam pengembangan fasilitas tersebut, yaitu Risman Mangidi, H. Agustia, dan Dinar Hadi.
Perjalanan pembangunan bermula dari pengusulan pembiayaan SBSN pada 2021, ketika Risman Mangidi memimpin BBV Maros. Pengusulan tersebut menjadi langkah awal dalam proses mewujudkan fasilitas laboratorium yang lebih memadai.
Tahap pembangunan kemudian terlaksana pada 2025, pada masa kepemimpinan H. Agustia. Proses ini menjadi kelanjutan dari perencanaan dan persiapan yang telah dilakukan sebelumnya hingga fasilitas tersebut dapat diwujudkan.
Sementara itu, Dinar Hadi, yang kini menjabat sebagai Kepala BBV Maros, sebelumnya merupakan Kepala Bagian Umum pada masa kepemimpinan Risman Mangidi dan H. Agustia. Dalam peran tersebut, ia turut mendampingi proses pengusulan dan pemenuhan persyaratan. Namun, ia tidak mendampingi langsung tahap awal pembangunan karena mendapat penugasan di unit pelaksana teknis lain.
Kini, Dinar Hadi memimpin peninjauan fasilitas dan peresmian laboratorium yang proses pengembangannya telah melalui sejumlah tahapan lintas kepemimpinan.
Pertemuan ketiga sosok tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan fasilitas publik merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan perencanaan, pemenuhan persyaratan, pelaksanaan, dan pengelolaan yang saling berkaitan. Setiap tahapan memiliki kontribusi dalam mewujudkan sarana yang diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi pelayanan kepada masyarakat.
Komitmen BBV Maros untuk pelayanan yang berkelanjutan
Peresmian Laboratorium Biosecurity Center Wilayah Timur Indonesia menjadi momentum bagi BBV Maros untuk melanjutkan penguatan kapasitas pengujian veteriner dan menjaga kualitas pelayanan melalui penerapan standar mutu, keselamatan kerja, keamanan hayati, serta pengelolaan lingkungan.
Kepala BBV Maros, Dinar Hadi, diharapkan dapat menegaskan komitmen tersebut dalam pengelolaan dan pemanfaatan fasilitas secara berkelanjutan.
“Laboratorium Biosecurity Center Wilayah Timur Indonesia merupakan bagian dari komitmen BBV Maros untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan veteriner. Kami akan mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas ini dengan memperhatikan mutu pengujian, keselamatan personel, keamanan hayati, dan perlindungan lingkungan, sehingga dapat semakin mendukung kebutuhan masyarakat serta upaya pengendalian penyakit hewan di wilayah kerja BBV Maros.” Terang Dinar.
Dengan beroperasinya fasilitas ini, BBV Maros diharapkan semakin mampu mendukung pelaksanaan pengujian veteriner di kawasan Indonesia Timur. Lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur, Biosecurity Center merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat layanan kesehatan hewan yang aman, andal, dan bertanggung jawab.
Melalui penguatan tersebut, BBV Maros terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta berkontribusi dalam menjaga kesehatan hewan, mendukung ketahanan pangan, dan melindungi kesehatan manusia.
