Maros, 4 Mei 2026 — Balai Besar Veteriner Maros (BBV Maros) telah melaksanakan Pertemuan Teknis Uji Profisiensi Diagnosa Brucellosis dan Antraks sebagai rangkaian puncak dari penyelenggaraan uji profisiensi yang diikuti oleh 21 instansi jejaring laboratorium veteriner di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya penjaminan mutu dan performa pengujian laboratorium veteriner, khususnya dalam diagnosa penyakit brucellosis dan antraks yang memiliki dampak terhadap kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat.
Pertemuan teknis ini menjadi wadah bagi peserta dan penyelenggara untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman teknis, serta melakukan evaluasi terhadap hasil pengujian yang telah dilaksanakan. Melalui diskusi yang konstruktif, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi perbaikan guna mendukung keseragaman dan keandalan hasil uji antar laboratorium veteriner peserta.
Sebagai lembaga yang telah memperoleh sertifikasi SNI ISO/IEC 17043:2023, BBV Maros memiliki peran penting dalam menyelenggarakan uji profisiensi yang kredibel, objektif, dan berstandar internasional. Uji profisiensi merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem penjaminan mutu laboratorium untuk memastikan kompetensi, akurasi, dan konsistensi hasil pengujian.
Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, BBV Maros menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan kapasitas jejaring laboratorium veteriner di Indonesia. Sinergi antar laboratorium menjadi bagian penting dalam menghasilkan data pengujian yang andal guna mendukung upaya pengendalian dan pencegahan penyakit hewan.
BBV Maros mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atas partisipasi aktif serta berbagai kritik, masukan, dan saran yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi penting dalam penyelenggaraan uji profisiensi ke depan agar kualitas pelaksanaan kegiatan dapat terus ditingkatkan.
Ke depan, BBV Maros akan terus berkomitmen untuk menyelenggarakan kegiatan uji profisiensi secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan hewan nasional, serta dalam mendukung kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan.


