Bandung — Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama berbagai mitra terus menggencarkan program intervensi pangan untuk menjaga stabilitas harga menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Program-program tersebut telah berjalan sejak sebelum Ramadan dan dipastikan berlanjut hingga Lebaran.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa kondisi stok pangan nasional berada dalam keadaan aman dan mencukupi. Oleh karena itu, pemerintah memastikan berbagai program intervensi tetap dilaksanakan guna menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Sejumlah program yang dijalankan antara lain Gerakan Pangan Murah (GPM), Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras, serta Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng.

Program-program tersebut dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau, sekaligus menjembatani distribusi dari daerah yang surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Di sisi lain, intervensi ini juga berfungsi sebagai dukungan ekonomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pelaksanaan program intervensi pangan dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, hingga pelaku usaha pangan. Sinergi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pengendalian inflasi.

Sepanjang Maret 2026, pelaksanaan GPM telah dilakukan sebanyak 789 kali di 24 provinsi dan 153 kabupaten/kota. Selain GPM reguler, pemerintah juga menggelar GPM khusus yang menyediakan daging ayam beku kualitas premium dengan harga sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP).

Program GPM khusus daging ayam ini tersedia di lebih dari 1.200 outlet di 17 provinsi dan berlangsung hingga menjelang Idulfitri. Pelaksanaannya melibatkan kerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, dan PT Malindo Feedmill Tbk.

Selain itu, stabilisasi harga daging ruminansia juga dilakukan melalui kolaborasi dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia dan PT Berdikari, guna memastikan masyarakat dapat memperoleh daging sapi dan kerbau dengan harga terjangkau.

Untuk program SPHP beras, realisasi penyaluran hingga pertengahan Maret telah mencapai sekitar 19,5 ribu ton melalui Perum BULOG. Dalam skema ini, masyarakat dapat membeli beras dengan batas maksimal tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, program FDP hingga Maret telah menyalurkan berbagai komoditas seperti cabai rawit merah, sapi hidup, beras, dan minyak goreng ke sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan pasokan, termasuk daerah di Kalimantan Timur, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.

Penyaluran bantuan pangan juga telah dimulai sejak awal Maret. Hingga pertengahan bulan, ratusan ribu penerima telah menerima bantuan berupa beras dan minyak goreng sebagai bagian dari stimulus ekonomi.

Pelaksanaan berbagai program intervensi ini didukung oleh kondisi stok pangan nasional yang kuat. Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa ketersediaan 11 komoditas strategis berada dalam kondisi sangat baik, khususnya beras.

Berdasarkan proyeksi hingga akhir April, ketersediaan beras nasional diperkirakan surplus sekitar 17,2 juta ton. Komoditas lain seperti jagung, minyak goreng, daging ayam, gula konsumsi, telur ayam, cabai, dan bawang merah juga tercatat dalam kondisi surplus.

Dengan dukungan produksi dalam negeri yang kuat serta berbagai program intervensi yang terus berjalan, pemerintah optimistis stabilitas harga dan ketersediaan pangan dapat terjaga hingga Idulfitri, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dengan harga yang terjangkau.